Tantangan Literasi Numerasi Siswa Indonesia: Soal Cerita Jadi Kendala
Kemampuan literasi numerasi—kemampuan memahami dan menerapkan konsep matematika dalam situasi nyata—masih menjadi kelemahan siswa Indonesia. Hasil asesmen internasional memperlihatkan skor PISA kita rendah, terutama di aspek numerasi. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa rendahnya literasi membaca siswa turut berkontribusi terhadap kesulitan memahami soal cerita dalam matematika. Tantangan Literasi Numerasi Siswa ini perlu segera diatasi dengan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan.
Baca juga : Pelatihan Guru: Metode Pembelajaran Kolaboratif yang Efektif
Dua Penyebab Utama Rendahnya Numerasi
1. Rendahnya Literasi Membaca Soal Cerita
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa beberapa soal matematika dikemas dalam bentuk narasi panjang. Ia memberi contoh soal:
“Saya berangkat jam 6.35 dari rumah dinas, perjalanan ke SD 4 Meruya membutuhkan waktu 30 menit. Jarak … kira-kira 11 kilo. Maka, berapakah kecepatan mobil dari rumah dinas ke SD 4 Meruya?”.
Ia menekankan bahwa siswa yang malas membaca soal cerita secara menyeluruh cenderung melewatkan detail penting, sehingga gagal menjawab dengan tepat.
2. Penurunan Minat Baca di Kalangan Siswa
Rendahnya minat baca di kalangan pelajar memperparah situasi. Ketika siswa tidak terbiasa membaca dengan cermat, pemahaman terhadap konteks matematika menjadi rendah dan numerasi pun terpengaruh.
Upaya Pemerintah: Gerakan Numerasi dan Digitalisasi Pembelajaran
Gerakan Numerasi Nasional (GNN)
Kemendikdasmen meluncurkan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) bertajuk Peluncuran Gerakan Numerasi Nasional di SDN Meruya Selatan 04 Pagi, Jakarta Barat, sebagai upaya mengintegrasikan literasi dan numerasi secara luas.
Melalui GNN, pemerintah memperkuat akar numerasi siswa dengan beberapa kegiatan inovatif:
- Pelatihan guru dalam pendekatan literasi numerasi.
- Produksi siniar tematik dan buku numerasi untuk keluarga.
- Pembangunan Taman Numerasi di 140 sekolah di 16 provinsi dan 13 desa sebagai ruang belajar dan bermain numerasi.
Literasi Nasional (GLN)
Selain GNN, Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa juga mengembangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). GLN menghadirkan buku bacaan berkualitas, termasuk audio, video, dan braille, untuk meningkatkan minat baca di berbagai kalangan.
Bagaimana Guru dan Sekolah Dapat Mendukung Peningkatan Literasi Numerasi?
1. Mengintegrasikan Literasi dan Matematika dalam Pembelajaran
Guru perlu mengaktifkan strategi membaca aktif dalam kelas. Misalnya, mengajarkan siswa untuk menandai informasi penting dalam soal cerita, membaca soal bersama, atau membuat ilustrasi untuk menyederhanakan teks matematis.
2. Membangun Suasana Belajar yang Interaktif
Pemberian soal numerasi dalam konteks yang dekat dengan kehidupan, seperti kegiatan sehari-hari atau permainan edukatif, membuat siswa lebih tertarik membaca dan memahami soal cerita.
3. Memanfaatkan Teknologi untuk Personalisasi Pembelajaran
Penerapan teknologi—seperti aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI)—dapat menciptakan latihan numerasi yang disesuaikan kemampuan siswa, memberikan umpan balik instan, serta membentuk pola belajar aktif.
4. Meningkatkan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan
Guru perlu pelatihan khusus dalam literasi dan numerasi, serta penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Dengan begitu, guru dapat mendesain soal kreatif dan memotivasi siswa untuk berpikir kritis.
Baca juga : Peta Jalan PJJ Kemendikdasmen: Solusi Inovatif Anak Tetap Sekolah
Dampak Positif: Saat Literasi dan Numerasi Terintegrasi
- Siswa lebih memahami konteks soal dan menyelesaikannya secara tepat.
- Motivasi belajar meningkat karena soal terasa relevan.
- Persiapan PISA dan asesmen nasional menjadi lebih solid.
- Kualitas pendidikan jadi lebih merata.
Solusi untuk Mengatasi Tantangan Numerasi
| Tantangan | Solusi yang Direkomendasikan |
|---|---|
| Malas membaca soal cerita | Mendorong kebiasaan literasi aktif dalam kelas |
| Kerangka pikir berpusat angka | Integrasi literasi dalam pembelajaran matematika |
| Metode pengajaran monoton | Desain pembelajaran interaktif dan kontekstual |
| Kurangnya tenaga pendidik terlatih | Pelatihan guru dan teknologi pembelajaran inovatif |
Info lainnya : Era Baru Pendidikan: Sekolah Terapkan Koding dan AI dalam Kurikulum
Rendahnya numerasi siswa Indonesia bukan hanya soal hitung-hitungan, tetapi berkaitan erat dengan budaya baca yang perlu dibangun. Inovasi pembelajaran, dukungan guru, serta pemanfaatan teknologi modern menjadi kunci utama.
Jika Anda seorang tenaga pendidik atau pemangku kebijakan pendidikan yang ingin meningkatkan profesionalisme guru dalam literasi numerasi melalui artificial intelligence, hubungi Excellent Team sekarang juga untuk menemukan solusi terbaik.
UNTUK INFO LEBIH LANJUT, KUNJUNGI EXCELLENT TEAM SEKARANG!



